"Kalau kita terus seperti ini, aku tidak akan pernah butuh air mata." Ungkapnya jujur, sambil memelukku lebih erat.
"Kau tahu? Aku selalu suka menghabiskan waktu denganmu, rasanya
seperti waktu tak memiliki batas." Sambil tersenyum kecil, aku
menatapnya.
"Apalah arti status jika tak mengandung cinta?" Lalu, dia menarik tanganku. Aku lupa kalau istriku menunggu di rumah.
"Wajahmu yang bodoh saja bisa menyebabkan rindu, apalagi suaramu yang lugu itu!" Aku tersenyum padanya, tak ingin semuanya berakhir.
"Aku pernah menjadi bodoh hanya karena mencintaimu, bukankah itu cukup gila?" Tanya singkatnya menodong pikiranku.
"Memaafkan itu kan memang wujud nyata dari mencintai." Jawabnya melemah. Aku menyesal telah membohonginya berkali-kali.
"Rindu itu kan memang tak beralasan, kalau kau tanya alasannya, maka aku diam." Ucapan lugunya merasuki otakku perlahan.
"Aku menyesal karena belum menemukan cara untuk melupakanmu." Tangisku yang tertahan ditenggorokan langsung berdesak-desakan keluar.
"Apalah arti status jika tak mengandung cinta?" Lalu, dia menarik tanganku. Aku lupa kalau istriku menunggu di rumah.
"Wajahmu yang bodoh saja bisa menyebabkan rindu, apalagi suaramu yang lugu itu!" Aku tersenyum padanya, tak ingin semuanya berakhir.
"Aku pernah menjadi bodoh hanya karena mencintaimu, bukankah itu cukup gila?" Tanya singkatnya menodong pikiranku.
"Memaafkan itu kan memang wujud nyata dari mencintai." Jawabnya melemah. Aku menyesal telah membohonginya berkali-kali.
"Rindu itu kan memang tak beralasan, kalau kau tanya alasannya, maka aku diam." Ucapan lugunya merasuki otakku perlahan.
"Aku menyesal karena belum menemukan cara untuk melupakanmu." Tangisku yang tertahan ditenggorokan langsung berdesak-desakan keluar.
"Kau membuatku jatuh cinta tapi kau tak mau menolongku untuk
bangun!" Dengan nada tinggi, aku "membisikan" kalimat itu pada
telinganya.
"Walaupun kau masih sering menyakitiku, aku pun masih tak punya alasan untuk membencimu." Ucapnya lugu, aku tetap mematung.
"Walaupun kau masih sering menyakitiku, aku pun masih tak punya alasan untuk membencimu." Ucapnya lugu, aku tetap mematung.